Makan siang bersama Elias

*Kisah di bawah merupakan side story dari Rise Up. Naskah novel ini sedang dalam pengeditan untuk dikirim ke penerbit. Wish me luck, hehe… ^^

**English version here


Kupikir Elias cocok dengan pekerjaan ini.

Dia adalah ksatria kerajaan. Kemampuannya tidak perlu diragukan. Master Gunther bilang belum pernah melihat orang yang keahlian pedang dan sihirnya seimbang. Kekuatan sihir dan permainan pedangnya saling melengkapi. Pernikahan keduanya menghasilkan kemampuan bertarung yang luar biasa.

Benarkah? Awalnya, aku ragu soal itu.

Basic RGBSaat pertama kali bertemu dengan Elias, dia nampak biasa. Bukan. Mungkin kata ‘biasa’ pun terlalu bagus untuknya. Tidak kekar, tidak tinggi, malah ringkih. Dia terlihat seperti ‘bocah’. Hanya tatapan matanya saja yang berbeda, tajam seperti elang. Aku tidak menyangka kalau umurnya sudah hampir seperempat abad. Enam tahun lebih tua dariku. Enam tahun.

Kami ngobrol di kedai tak jauh dari markas. Dia memilih coklat hangat dan terus menatapku lekat-lekat. Masih curiga, rupanya. Sekalipun sudah kuberitahu apa tujuanku, Elias masih waspada. Aku suka sikapnya. Pengamat dan pendengar yang baik. Dia meneliti setiap gerakanku. Jadi, kubalas meneliti dirinya.

Pria di depanku ini memakai jas merah berleher tinggi. Ada keliman benang emas di setiap ujungnya. Kancingnya besar, berjajar rapi di masing-masing sisi. Dua pasang rantai menjulang dari kancing kanan teratas ke kancing kiri. Di balik jas, dia mengenakan kemeja putih polos dan dasi hitam. Ada pin berbentuk sayap di ujung dasi. Sebagai aksesoris, Elias mengenakan sarung tangan hitam dan topi. Topi ada di atas meja, dia meletakannya begitu masuk kedai. Tapi, sarung tangan masih menutupi tangannya.

Dari sekali lihat, aku tahu semua yang dikenakannya adalah perlengkapan perang.

Jasnya terbuat dari serat bulu phoenix, tahan api dan tidak mudah robek. Rantai di kancingnya bisa memanjang sampai ratusan meter. Pin sayap di dasinya dimantrai agar membuat penggunanya lebih lincah bergerak. Topinya menyimpan energi sihir. Aku tidak mengenali emblem yang ada di sana, tapi aku merasakan aliran sihir mengalir darinya. Senjatanya tersembunyi pada sarung tangan kiri. Ada ukiran diagram sihir dan batu-batu kecil di bagian punggung tangannya. Tiga batu. Merah, kuning, dan hitam. Kudengar senjatanya punya tiga bentuk. Mungkin satu batu mewakili satu bentuk senjata. Sarung tangan kanan juga punya ukiran yang sama tapi tanpa batu. Itu yang kuamati sejauh ini. Aku yakin dia menyembunyikan lebih banyak rahasia lagi.

Akan kupikirkan ribuan kali kalau harus berhadapan dengannya.

Dari obrolan kami, aku tahu dia senang berburu. Jadi, langsung saja kuajak berburu. Dia pasti paham kalau aku ingin melihat kemampuannya. Tapi, dia tidak keberatan asalkan aku mau memasak hasil buruannya nanti. Kuharap perutnya sama pendiamnya dengan mulutnya.

Kami berburu di hutan Tricane. Kelinci, burung, rusa, banyak hewan di sana. Bagi orang seperti Elias, aku yakin pilihannya jatuh pada hewan yang jauh lebih eksotis. Dia memilih… ular, tentu saja. Apa yang lebih menantang dari itu?

Ada ular sedang berenang di sungai saat kami menjumpainya. Panjangnya cuma satu meter, badannya juga lumayan kurus, tapi pasti cukup untuk makan siang kami. Aku mulai mencari ide masakan dan Elias sudah mengeluarkan busur dari sihir es. Elias menegakkan badan. Dia melepaskan panah. Satu anak panah langsung mengenai sasaran. Kemampuan memanahnya lumayan.

Elias mengangkat tangan dan menarik sasarannya dengan sihir. Ular itu melayang ke tangannya. Kupikir itu makan siang kami, ternyata salah. Dia mengikat ular dengan semacam senar bening dari sihir lalu mengajakku ke bagian sungai yang lebih dalam. Kami berdiri di ujung. Dia menceburkan ular ke dalam air sementara senar sihir masih terhubung ke telunjuk dan jari tengahnya.

Beberapa menit kemudian, aku bisa melihat riak di tengah sungai. Gelombang air melingkari ujung senar satunya. Gelombang pun membesar, mengundang gelombang lain. Kupicingkan mata untuk melihat lebih jelas. Sesuatu dari sungai sedang menarik umpan.

Elias menyentakkan tangan ke belakang. Ikan yang memakan umpannya pun tertarik keluar. Ukuran ikan membuat mulutku mengaga. Aku baru menyadari kalau Elias sudah ada di sana. Di udara, menghampiri si ikan. Dia membawa parang hitam panjang. Ditebasnya ikan itu jadi beberapa bagian dengan gerakan yang ringan. Kemudian, dia kembali ke tepi bersama ikan buruannya. Tahulah aku kalau itu makan siang kami.

Mungkin baginya, ini sebuah lelucon. Bagiku, ini lebih dari sekedar pertunjukan kemampuan. Semua energi yang dikeluarkannya pas. Tidak ada yang terbuang percuma. Efisien, sebut saja begitu.

Sebagai gantinya, aku juga harus menunjukkan sesuatu yang berbeda. Kupakai ajaran Asa. Diawali dengan membersihkan dan memotong ikan. Energi sihir keluar dari jariku, membentuk sebilah pisau kecil. Pisau bergerak sendiri dan mulai melakukan apa yang ada dalam pikiranku. Lalu, kuciptakan api unggun di antara kami. Kupanggang ikan di atas api sementara pisau melayang memotong buah beri yang tergantung di pohon. Merasa kurang cepat, kubuat pisau yang lain dan mulai mengumpulkan daun-daun lebar. Kugunakan daun-daun lebar sebagai alas makanan kami.

Elias masih memperhatikanku dengan seksama. Tidak banyak penyihir bisa menggunakan beberapa sihir bersamaan. Tebakanku, ini pertama kali baginya melihat hal semacam ini.

Selesailah makan siang kami. Ikan panggang dan yogurt beri. Darimana? Oh, kebetulan aku membawa sebotol susu. Jadi, kuolah saja jadi yogurt.

Setelah makan siang, Elias berpamitan. Dia harus melanjutkan perburuannya mencari para penjahat licin. Entah buron siapa lagi yang jadi incarannya saat ini. Intuisi dan kekuatan membawanya sejauh ini. Padahal beberapa saat lalu, dia begitu terpuruk. Tanpa sadar, aku tersenyum. Mereka yang disebut kuat adalah mereka yang bisa bangkit sekalipun sudah turun ke dasar terdalam.

Elias salah satunya.

Sayang sekali LIMIT tidak bisa memiliki orang seperti dia. Tujuan kami mungkin sama, tapi jalan kami berbeda. Bergabung dengan LIMIT bisa jadi menghalangi langkahnya. Kuhargai keputusannya untuk berjalan sendirian di jalan itu. Aku yakin dia bisa menjalankan peran sebaik-baiknya. Kunantikan berita terbaru darinya. Senang bisa berkenalan dan makan siang bersama penyihir sepertinya.

Mari berjuang, Elias.

Ivander Sieghart

Advertisements

One thought on “Makan siang bersama Elias

  1. Pingback: Lunch with Elias | Silvame

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s