Chapter 2: Winged man

Jauh di suatu tempat yang tidak terjangkau oleh mata, para manusia bersayap tinggal di sebuah tempat bernama Halrane. Beberapa waktu yang lalu, baru saja terjadi kegemparan besar di sana. Salah satu batu sihir terkuat yang digunakan menyegel makhluk kegelapan baru saja terbebas. Ini memaksa Ervin dan Axel, dua dari dua belas archangel, menemui Isseiru, pimpinan sayap hitam atau yang biasa mereka sebut malaikat kematian. Keduanya menuruni tangga Hall of Glory, bangunan terbesar di Halrane dan tempat para archangel biasa rapat. Ada kalanya mereka lebih senang menyimpan sayap dan memilih jalan kaki.

Mereka berhenti di tepi sebuah danau kecil. Sebatang pohon besar tumbuh tak jauh dari tempat mereka berdiri. Diameternya mencapai lima meter. Daunnya kemerahan dengan batang berwarna perak. Pohon ini merupakan simbol khas wilayah malaikat kematian. Mereka menamainya Scarlett.

“Tidak biasanya archangel berkunjung kemari.” Di seberang Scarlett nampak seorang pria menuruni tangga kuilnya yang kokoh. Dia memiliki rambut panjang sepunggung warna hitam. Saat terkena matahari, ada pantulan warna biru pucat yang bisa tertangkap dari sana. Jubah hitamnya berayun lembut seiring hembusan angin.

“Selamat pagi, Isseiru,” sapa Ervin.

“Apa yang kalian lakukan di sini?” tanya Isseiru.

“Dingin sekali sikapmu pada mantan rekanmu ini.” Ervin tertawa kecil. “Kamu nggak berubah, ya. Masih sama seperti sebelum kamu kehilangan sayap putihmu.”

“Aku yakin kalian bukan kesini untuk menyapa teman lama. Jadi, sedang apa kalian di sini?” Isseiru bertanya lagi.
“Kamu pasti sudah bisa menebaknya,” jawab Ervin.

Isseiru mengangguk. “Cyrenca.”

***

Ketiganya berjalan ke belakang kuil dan duduk di sebuah gazebo kecil. Cahaya matahari hangat menerobos sela-sela tanaman rambat yang menutupi atap gazebo. Kontras dengan cahaya mentari, udara berhembus dingin.

“Langsung saja,” sahut Isseiru.

Ervin tersenyum tipis, “Tentu.” Senyum pun hilang dari wajahnya. “Para archangel ingin divisimu menemukan seorang manusia bernama Sylvester Daremain. Cari dan bunuh dia!”

“Dia yang melepas segel Cyrenca? Seorang manusia?” tebak Isseiru. “Tapi… Tidak seperti biasanya. Biasanya kerubim yang bertugas menangkap buronan, serafim yang memurnikan pikiran jahatnya, dan archangel-“

“Sepertinya kamu sudah salah paham.” Axel akhirnya ikut bicara. “Sylvester tidak hanya menemukan dan membebaskan segel Cyrenca. Dia menggunakannya. Dia memakai kekuatan terlarang dan menjadi makhluk kegelapan.”

Mulut Isseiru ternganga. Untuk sesaat, dia berpikir kalau Halrane hanya dihebohkan soal terlepasnya segel Cyrenca.
Cyrenca adalah batu magis yang digunakan para archangel untuk mengurung makhluk kegelapan. Batu seperti ini hanya dipakai saat mereka menemui makhluk kegelapan yang terlalu kuat dan tidak bisa dimusnahkan. Archangel menyembunyikan lokasi pengurungan jauh dari keberadaan manusia dan menutupnya dengan dua puluh empat lapis pelindung. Bagaimana bisa seorang manusia biasa menemukan dan membebaskannya?

“Sylvester sudah jadi makhluk kegelapan. Kamu nggak perlu ragu membunuhnya,” lanjut Ervin.

“Sekuat apa Sylvester ini?” tanya Isseiru. Kalau Ervin bilang Sylvester sudah jadi makhluk kegelapan, berarti dia mempunyai kekuatan di atas manusia biasa. Membunuh manusia dan makhluk kegelapan jelas punya tingkat kesulitan berbeda. Manusia tidak akan sanggup melukai mereka, tapi makhluk kegelapan sanggup melakukannya. Bahkan membunuh mereka pun, sangat dimungkinkan.

“Sangat kuat, pastinya,” kata Axel.

“Ingat,” tambah Ervin. “Dia berhasil melepaskan segel pengurung yang dipasang archangel.”

Kalau kamu ragu, kamu boleh menolaknya, Isseiru yakin Axel ingin melontarkan kalimat itu. Sementara, Ervin mengenal Isseiru yang tidak pernah menolak tugas.

“Apa ini perintah dari Master Chael?” Isseiru balas bertanya sambil tersenyum tipis.

“Ya.”

Master Chael merupakan pemimpin archangel dan pemimpin Halrane. Dia malaikat pertama. Rumor mengatakan Master Chael ada sebelum Halrane, entah benar atau tidak. Beberapa malaikat malah berasumsi kalau dialah pencipta Halrane. Pria ini disebut-sebut punya kemampuan pengelihatan masa depan.

“Tidak ada sayap putih yang bisa menghancurkan Cyrenca,” lanjut Ervin. “Itu yang diucapkan Master Chael.”
Axel tidak suka dengan kalimat itu. Tidak ada sayap putih yang bisa bukan berarti ada sayap hitam bisa. Lagipula malaikat kematian tidak cuma memiliki sayap hitam saja. Mereka juga punya sayap hitam dan putih. Ini pembeda utama malaikat kematian dengan malaikat yang lain. Merekalah satu-satunya divisi pemilik sayap hitam di sana. “Risiko terbesar yang akan kalian hadapi adalah kematian,” kata Axel.

Isseiru tersenyum tipis dan memandang kedua archangel dengan tatapan tajam. “Kamilah malaikat kematian. Kami tidak takut dengan kematian itu sendiri.”

“Kalian tidak setiap hari bertarung melawan kematian.” Axel menggigit bibirnya.

“Tidak,” Isseiru mengakuinya. “Tapi, setiap hari kami melihat kematian.”

Axel tertegun mendengar jawaban Isseiru. Setiap manusia dan malaikat yang hidup, berhadapan dengan kematian setiap harinya, itulah yang ingin disampaikan Isseiru. Tidak ada seorang pun yang tahu kapan mereka akan mati. Termasuk para malaikat.

Manusia bersayap yang menyebut diri mereka malaikat ini sesungguhnya adalah orang-orang yang telah mati dan mengalami kelahiran baru. Kini mereka punya cara hidup baru yang berbeda dari orang pada umumnya. Selain itu mereka juga mendapat sayap dan umur panjang sebagai tanda kelahiran baru tersebut. Persamaan mereka dengan malaikat hanyalah punya sayap dan kekuatan magis. Jadi bisa dibilang, mereka bukan sepenuhnya malaikat. Tidak seperti yang dikenal manusia lewat buku. Lagipula malaikat yang sesungguhnya tidak mengenal laki-laki atau perempuan.

Lalu, makhluk kegelapan sendiri adalah pikiran dan perasaan jahat yang muncul dalam setiap hati manusia. Setiap manusia menciptakan makhluk kegelapan setiap kali mereka merasa takut, benci, atau mengalami perasaan buruk lainnya. Semakin kuat perasaan itu, semakin kuat juga para makhluk kegelapan. Pada saat tertentu, makhluk kegelapan bisa muncul dan mengacaukan kehidupan manusia. Misalnya, menghancurkan roh mereka saat mereka sudah mati agar roh mereka gagal bergabung dengan sang pencipta.

Makhluk kegelapan berwujud seperti monster. Terkadang mereka bisa bicara, terkadang mereka hanya punya cakar tajam. Terkadang mereka kuat, kadang lemah. Ukuran dan bentuknya berbeda-beda. Persamaannya hanya satu. Mereka semua berbahaya dan — jelas— jahat.

Makhluk kegelapan tidak memiliki nama. Malaikatlah yang memberi mereka nama. Seperti Cyrenca. Nama itu diberikan sesuai dengan nama batu penyegelnya.

“Jadi?” Ervin tersenyum. “Haruskah kukatakan selamat bekerja?”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s